Ketika Aura Kebencian Politik Merasuki Jiwa Biker


Assalamu’alaikum wa rochmatullohi wa barokatuh

Salam sejahtera buat kita semua, semoga kita semua selamat di perjalanan sampai ke tujuan


Jatuh saat naik motor bukanlah hal aneh, bahkan sangat biasa. Ane pun sudah puluhan kali jatuh dari motor, padahal naik motor sudah puluhan tahun. Apalagi orang yang nggak biasa bawa motor model tersebut, misalnya nggak biasa bawa moge, kemudian terjatuh…yang biasa, maklum lah. Apalagi motor yang biasa dipakainya adalah skuter matik (skutik).

Akan tetapi jika seseorang, bahkan yang pintar, cerdas dan berpengalaman sekalipun, ketika hatinya dijangkiti kebencian yang sangat, sesuatu yang biasa tersebut terlihat sangat “heboh”. Bahkan dengan entengnya ia berkata

” Naik motor itu pakai otak pak”.

Omongan seseorang (yang katanya biker) ini bener-bener aneh. Memangnya orang bisa naik motor, tiba-tiba jatuh karena suatu kesalahan menunjukkan bahwa ia nggak pakai otak ? Lalu bagaimana dengan yang seperti tampak pada gambar ini :

Apa valentino rossi (juga pembalap lain yg crash sendirian) nggak ada otaknya ?

Bagaimana dengan yang ini ? Padahal beliau adalah panutan dalam berkendara di jalan raya. Kok bisa jatuh saat ujian sim ?

Jika orang awam (orang goblok)  yang bikin status tersebut tentunya dimaklumi. Akan tetapi mereka yang membuat status, membagikan dan menviralkan “orang jatuh naik moge” ini bukan orang sembarangan di dunia biker nasional. Bahkan ada juga blogger sepsialis moge yang turut memviralkan sekaligus memanaskan suasana.

” Apakah ketika yang jatuh menjajal moge adalah seorang gubernur dki jakarta, tiba-tiba muncul ujaran sadis (“kalau naik motor itu pakai otak pak”)”.

Sekarang mari kita tunggu komentar mereka selanjutnya. Apakah akan mengomentari rossi, marquez, dovizioso, lorenzo, pedrosa sebagai “idiot rider”. Karena sudah bertahun-tahun naik motor di motogp, masih juga jatuh tanpa ada yang mengganggunya. Atau kita tunggu juga komentar mereka terhadap kelakuan yang melebihi idiot yang baru saja viral ini

Pengendara ojek online yang melalui trotoar. Padahal trotoar adalah hak pejalan kaki. Akan tetapi justru pengendara ojol ini yang marah, karena berasa lebih berhak lewat trotoar.

Harusnya yang kemarin “nyinyiers” begitu pedas menghina gubernur yang salah sedikit saja saat naik moge, lebih pedas hinaannya pada rider ojol ini. Karena rider ojol ini bukan salah karena khilaf/tidak sengaja, akan tetapi ia sengaja dan tidak merasa salah. Jika nyinyiers ini ternyata tidak bereaksi dengan kejadian ojol ini, kemungkinan besar dihatinya ada kebencian yang dalam pada pak gubernur. Mengapa benci ? Entahlah…mungkin masih belum bisa move-on setelah juragannya kalah pilgub kemarin. Tepatnya tanya langsung saja ke orangnya.

Wassalamu’alaikum warochmatullohi wa barokatuh.

Advertisements

$where = 0;

3 responses to “Ketika Aura Kebencian Politik Merasuki Jiwa Biker

  1. ya gitu deh. padahal klo naik motornya pake” otak” ya bkln jatuh juga. coz yg bikin kita gk jatuh itu naik motor pake kaki, tangan, mata juga.

  2. Mantappp mang….saya setuju…mm

  3. Wahaha… belum move on kayaknya emang…. kasihan hidupnya jadi berat karena hal yg sepele…

Semoga tercerahkan dan komen mas bro juga ikut mencerahkan