[Ngaji Islam] "Dua" Hal yang Bisa Menyesatkan Manusia dari Jalan yang Lurus

mukadimah4

“Sambil nunggu motogp argentina, yuk kita ngaji..”

Sebelumnya ane ingin menyampaikan bahwa ane Iwan Fadila pengasuh blog motogokil ini, menulis artikel tentang ngaji Islam, bukan karena ane lebih berilmu, bukan juga karena sudah banyak amal sholih nya. Ane sebagai manusia biasa yang penuh kekurangan dan dosa, masih jauh dari maqom ‘alim dan sholihin. Artikel ini ane tulis semata-mata ingin manjalankan perintah Allah SWT : “…saling menasehati di dalam kebenaran dan saling menasehati di dalam kesabaran. Juga perintah dari Rosululloh SAW : “…sampaikan dariku walau satu ayat”.

Manusia diciptakan oleh Allah SWT semata-mata untuk beribadah kepada-Nya, tidak ada kegiatan lainnya,

“Hanya untuk beribadah kepada Allah SWT”.

Dan di alam arwah, seluruh manusia telah bersaksi bahwa Allah SWT adalah Rabb, Tuhan pencipta dan pemelihara seluruh alam. Akan tetapi setelah mereka berjalan di muka bumi, kebanyakan manusia “lupa”. Lupa karena memang tabiat alami manusia, kemudian disesatkan oleh iblis dan bala tentaranya. Oleh karena itu Allah SWT mengutus Rosul-Rosul Nya untuk membawa risalah Nya, yang menunjukkan dan mangajak manusia kembali kepada jalan yang lurus.

Pada zaman kita ini, petunjuk yang akan membimbing kita ke jalan yang lurus adalah Al Qur’an yang merupakan firman Allah SWT dan As Sunnah yang merupakan bimbingan dari Rosulullah SAW untuk menjelaskan bagaimana syari;at Islam dilaksanakan dalan kehidupan nyata. Karena kita tidak hidup di zaman Rosululloh SAW, maka bimbingan beliau sampai kepada kita melalui Sahabat RA, tabi’in, tabi’it tabi’in dan para ulama’ yang mendapatkan petunjuk dan bimbingan dari Allah SWT. Bila kita mengikuti petunjuk ini maka kita akan berjalan di muka bumi pada jalan yang lurus, jalan yang benar, jalan yang berkah menuju ridlo Allah SWT, yang akan memasukkan kita ke surga.

Akan tetapi iblis dan bala tentara syetan dari golongan jin dan manusia, tidak akan tinggal diam. Karena iblis akan berusaha menyesatkan manusia, kalau bisa seluruhnya, agar kelak di hari pembalasan,sama-sama masuk kedalam neraka.

Allah سبحانه و تعالي memberitakan tentang perkataan Iblis di dalam Al-Qur’an :

قَالَ فَبِعِزَّتِكَ لأغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ إِلا عِبَادَكَ مِنْهُمُ الْمُخْلَصِينَ

“Iblis berkata : Demi kekuasaan Engkau, aku akan menyesatkan mereka semuanya
kecuali hamba-hamba-Mu yang mukhlish di antara mereka”  (Qs.Shaad : 82-83)

Iblis akan mengerahkan segala cara untuk menyesatkan umat manusia, dua yang paling pokok yang digunakan iblis dalam menyesatkan manusia adalah tipudaya SYUBHAT dan SYAHWAT.

Syubhat ; adalah tipudaya iblis dan setan yang menjadikan sebuah perkara itu menjadi samar alias tidak jelas, yang tujuannya adalah membuat manusia menjadi ragu-ragu sampai pada akhirnya tersesat dari jalan yang lurus. Seseorang yang terkena fitnah ini, di akalnya akan timbul kerancuan berfikir, karena setan sudah berhasil masuk ke fikirannya dan menipunya. Syetan mebungkus kemungkaran seindah mungkin, sehingga manusia dengan fikirannya yang kacau akan melihatnya sebagai kebajikan, dan mengamalkannya tanpa sadar bahwa ia sudah tersesat, dan begitu pula sebaliknya. Fitnah syubhat akan menimpa seseorang yang minim ilmu agama, akan tetapi terlalu menyombongkan akalnya. Akibatnya setan dengan mudah menyimpangkan pemikiran dan amalannya keluar dari yang disyari’atkan.

Bentuk dan wujud nyata dari fitnah syubhat banyak sekali. Dan biasanya kita tidak menyadarinya bahwa pemikiran, perkataan dan amalan tersebut adalah keliru bahkan sesat. Karena menurut akal kita (yang sombong dan kebablasan) hal tersebut adalah benar. Tetapi ketikan dibandingkan dengan syariat Islam, tahulah kita bahwa pemikiran, perkataan dan amalan tersebut ternyata telah menyimpang, keluar dari jalur yang lurus alias sesat.

Shirothol Mustaqim

Syahwat ; adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan kesukaan/kecintaan, selera, dan keinginan. Syahwat dibutuhkan dalam kelangsungan kehidupan manusia. Karena dengan syahwat manusia memilki keinginan makan, berkembang biak dan meningkatkan kualitas kehidupannya. Akan tetapi jika syahwat ditumpangi oleh setan dan diikuti oleh manusia hingga menyimpang dari syariat, maka manusia akan terfitnah dan akan menjadikannya tersesat dari jalan yang lurus.

Bahaya dari dua jenis fitnah ini sudah termaktub dalam Al Qur’an, Allah SWT berfirman :

كَالَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ كَانُوا أَشَدَّ مِنكُمْ قُوَّةً وَأَكْثَرَ أَمْوَالاً وَأَوْلاَدًا فَاسْتَمْتَعُوا بِخَلاَقِهِمْ فَاسْتَمْتَعْتُم بِخَلاَقِكُمْ كَمَا اسْتَمْتَعَ الَّذِينَ مِن قَبْلِكُم بِخَلاَقِهِمْ وَخُضْتُمْ كَالَّذِي خَاضُوا أَوْلَئِكَ حَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ فِي الدُّنْيَا وَاْلأَخِرَةِ وَأُوْلَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ
(Keadaan kamu hai orang-oang munafik dan musyirikin adalah) seperti keadaan orang-orang sebelum kamu, mereka lebih kuat daripada kamu, dan lebih banyak harta benda dan anak-anaknya daripada kamu. Maka mereka telah menikmati bagian mereka, dan kamu telah nikmati bagianmu sebagaimana orang-orang yang sebelummu menikmati bagian mereka, dan kamu mempercakapkan (hal yang batil) sebagaimana mereka mempercakapkannya. Mereka itu, amalannya menjadi sia-sia di dunia dan di akhirat; dan mereka itulah orang-orang yang merugi. (QS. 9:69)

Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata: “Firman Allah SWT : “kamu telah nikmati bagianmu” mengisyaratkan pada mengikuti hawa-nafsu syahwat, ini merupakan penyakit para pelaku maksiat. Dan firman Allah: “Dan kamu mempercakapkan (hal yang batil) sebagaimana mereka mempercakapkannya” mengisyaratkan pada mengikuti syubhat-syubhat, ini merupakan penyakit para pelaku bid’ah, pengikut hawa-nafsu, dan senang melakukan perdebatan. Dan sangat sering keduanya (penyakit itu) berkumpul. Maka jarang engkau dapati orang yang aqidahnya ada kerusakan, kecuali hal itu nampak pada lahiriyahnya.” (Iqtidha’ Shirathil Mustaqim, hal: 55)

Oleh karena itulah Salafush Shalih dahulu menyatakan: “Waspadalah kamu dari dua jenis manusia: Pengikut hawa-nafsu yang telah disesatkan oleh hawa-nafsunya (inilah fitnah syubhat-pen), pemburu dunia yang telah dibutakan oleh dunianya (ini fitnah syahwat-pen)”.

Mereka juga menyatakan: “Waspadailah kesesatan orang ‘alim (ahli ilmu) yang durhaka (karena terkena fitnah syahwat-pen), dan kesesatan ‘abid (ahli ibadah) yang bodoh (karena terkena fitnah syubhat-pen), karena kesesatan keduanya itu merupakan kesesatan tiap-tiap orang yang tersesat.”
Maka yang itu (orang ‘alim yang durhaka) menyerupai (orang-orang Yahudi) yang dimurkai, orang-orang yang mengetahui al-haq, tetapi tidak mengikutinya. Sedangkan yang ini (‘abid yang bodoh) menyerupai (orang-orang Nashara) yang sesat, orang-orang yang beramal tanpa ilmu.” (Iqtidha’ Shirathil Mustaqim, hal: 55, tahqiq Syeikh Khalid Abdul Lathif As-Sab’ Al-‘Alami)

Nabi kita Rosululloh Muhammad SAW juga sangat menghawatirkan nasib umatnya (kaum muslimin) terkena kedua fitnah ini, yang dituangkan dalam sabdanya :

إِنَّ مِمَّا أَخْشَى عَلَيْكُمْ شَهَوَاتِ الْغَيِّ فِي بُطُونِكُمْ وَ فُرُوجِكُمْ وَمُضِلَّاتِ الْفِتَنِ
Sesungguhnya di antara yang aku takutkan atas kamu adalah syahwat mengikuti nafsu pada perut kamu dan pada kemaluan kamu serta fitnah-fitnah yang menyesatkan. (HR. Ahmad dari Abu Barzah Al-Aslami. Dishahihkan oleh Syeikh Badrul Badr di dalam ta’liq Kasyful Kurbah, hal: 21)

Syahwat mengikuti nafsu perut dan kemaluan adalah fitnah syahwat, sedangkan fitnah-fitnah yang menyesatkan adalah fitnah syubhat.

JENIS-JENIS FITNAH SYUBHAT
1. Di antara fitnah syubhat terbesar adalah kekafiran. Karena sesungguhnya orang-orang kafir itu berada di dalam kesesatan tetapi mereka menyangka berada di atas kebenaran dan kebaikan. Allah Ta’ala berfirman:

قُلْ هَلْ نُنَبِّئُكُمْ بِاْلأَخْسَرِينَ أَعْمَالاً {103} الَّذِينَ ضَلَّ سَعْيَهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعًا {104} أُوْلَئِكَ الَّذِينَ كَفَرُوا بِئَايَاتِ رَبِّهِمْ وَلِقَآئِهِ فَحَبِطَتْ أَعْمَالَهُمْ فَلاَنُقِيمُ لَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَزْنًا {105}

Katakanlah:”Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya”. Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedang mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya. Mereka itu orang-orang yang kufur terhadap ayat-ayat Rabb mereka dan (kufur terhadap) perjumpaan dengan Dia, maka hapuslah amalan-amalan mereka, dan Kami tidak mengadakan suatu penilaian bagi (amalan) mereka pada hari kiamat. [Al Kahfi : 103 – 105]

Lihatlah orang-orang kafir tersebut! Amalan mereka terhapus dan sia-sia, tetapi mereka menyangka telah berbuat sebaik-baiknya!! Alangkah ruginya mereka!!!

2. Di antara fitnah syubhat yang tak kalah dahsyat adalah kemunafikan.
Simaklah firman Allah Azza wa Jalla.

فِي قُلُوبِهِم مَّرَضُُ فَزَادَهُمُ اللَّهُ مَرَضًا وَلَهُمْ عَذّابٌ أَلِيمُ بِمَا كَانُوا يَكْذِبُونَ {10} وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ لاَ تُفسِدُوا فِي اْلأَرْضِ قَالُوا إِنَّمَا نَحْنُ مُصْلِحُونَ {11}

Dalam hati mereka (orang-orang munafik) ada penyakit (syubhat; keraguan), lalu Allah menambah penyakit itu; dan bagi mereka siksa yang pedih disebabkan mereka berdusta. Dan bila dikatakan kepada mereka, “Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi,” mereka menjawab, “Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan.” [Al Baqarah : 10-11]

Perhatikanlah orang-orang munafik ini, mereka nyata-nyata berbuat kerusakan, tetapi mereka menyangka mengadakan perbaikan!

3. Di antara bentuk fitnah syubhat yang lain adalah fitnah bid’ah dan mengikuti hawa-nafsu. Fitnah ini menyebabkan umat terpecah-belah menjadi kelompok-kelompok yang saling bermusuhan.

Imam Ibnu Rajab Al-Hambali rahimahullah berkata: “Adapun fitnah syubuhat (syubhat-syubhat), maka telah diriwayatkan dari Nabi dengan banyak jalan bahwa umat beliau akan berpecah-belah menjadi lebih dari 70 kelompok, sesuai dengan perbedaan riwayat-riwayat jumlah kelebihan dari 70 (yang shahih dan terpilih 73 kelompok-pen), dan bahwa seluruh kelompok tersebut di dalam neraka kecuali satu saja, yaitu kelompok yang berada di atas apa yang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya ada padanya”. [Kasyful Kurbah, hal: 19]

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أَلَا إِنَّ مَنْ قَبْلَكُمْ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ افْتَرَقُوا عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِينَ مِلَّةً وَإِنَّ هَذِهِ الْمِلَّةَ سَتَفْتَرِقُ عَلَى ثَلَاثٍ وَسَبْعِينَ ثِنْتَانِ وَسَبْعُونَ فِي النَّارِ وَوَاحِدَةٌ فِي الْجَنَّةِ وَهِيَ الْجَمَاعَةُ زَادَ ابْنُ يَحْيَى وَعَمْرٌو فِي حَدِيثَيْهِمَا وَإِنَّهُ سَيَخْرُجُ مِنْ أُمَّتِي أَقْوَامٌ تَجَارَى بِهِمْ تِلْكَ الْأَهْوَاءُ كَمَا يَتَجَارَى الْكَلْبُ لِصَاحِبِهِ وَقَالَ عَمْرٌو الْكَلْبُ بِصَاحِبِهِ لَا يَبْقَى مِنْهُ عِرْقٌ وَلَا مَفْصِلٌ إِلَّا دَخَلَهُ

Ketahuilah, sesungguhnya Ahlul Kitab sebelum kamu telah berpecah-belah menjadi 72 agama. Dan sesungguhnya agama ini (Islam) akan berpecah-belah menjadi 73 agama. 72 di dalam neraka, dan satu di dalam sorga, yaitu Al-Jama’ah. (Di dalam hadits Ibnu ‘Amr dan Yahya ada tambahan:) Dan sesungguhnya akan muncul beberapa kaum dari kalangan umatku yang hawa-nafsu menjalar pada mereka sebagaimana virus rabies menjalar pada tubuh penderitanya. Tidak tersisa satu urat dan persendian kecuali sudah dijalarinya. [HR. Abu Dawud, Ahmad, Darimi, Ibnu Abi Ashim. Al-Hakim, dan lainnya. Dishahihkan oleh Al-Hakim, disetujui Adz-Dzahabi, juga Syeikh Al-Albani di dalam Dzilalul Jannah I/7]

Perhatikanlah firqah-firqah yang ada di kalangan umat Islam ini, mereka semua mengaku di atas al-haq, sedangkan mereka saling menyatakan sesat terhadap kelompok yang lain. Alangkah besarnya syubhat yang ditanamkan syaithan ini!

JENIS-JENIS FITNAH SYAHWAT
Macam-macam fitnah syahwat ini sumbernya terangkum dalam “kenikmatan kehidupan dunia” sebagaimana Allah Azza wa Jalla firmankan:

زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَاْلأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ذَلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَاللهُ عِندَهُ حُسْنُ الْمَئَابِ {14}

Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia; dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga). [Ali Imran :14]

Maka di antara fitnah syahwat adalah:
a). Fitnah Wanita.
Inilah fitnah pertama dan terbesar serta paling berbahaya bagi laki-laki! Rasulullah sudah memperingatkan hal ini di dalam sabda beliau:

مَا تَرَكْتُ بَعْدِي فِتْنَةً أَضَرَّ عَلَى الرِّجَالِ مِنَ النِّسَاءِ

Tidaklah aku menginggalkan fitnah, setelah aku (wafat), yang lebioh berbahaya terhadap laki-laki daripada wanita. [HR. Bukhari no: 5096, Muslim no: 2740, dan lainnya, dari Usamah bin Zaid]

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah mengomentari hadits ini dengan perkataan: “Hadits ini menunjukkan bahwa fitnah yang disebabkan wanita merupakan fitnah terbesar daripada fitnah lainnya. Hal itu dikuatkan firman Allah: “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita…” (Ali-Imran:14), yang Allah menjadikan wanita termasuk “hubbu syahawat” (kecintaan perkara-perkara yang diingini), bahkan Dia menyebutkannya pertama sebelum jenis-jenis yang lain sebagai isyarat bahwa wanita-wanita merupakan pokok hal itu”. [Fathul Bari]

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata: “Kebanyakan yang merusakkan kekuasaan dan negara adalah mentaati para wanita”. [Iqtidha’ Shirathil Mustaqim, hal: 257]

Karena fitnah wanita, seseorang dapat terjerumus ke dalam berbagai kemaksiatan karenanya. Seperti: memandang wanita yang bukan mahramnya, menyentuhnya, berpacaran, bahkan sampai berbuat zina!

Demikian juga banyak pemuda atau orang tua yang menyimpan foto-foto wanita kekasihnya, atau artis film, penyanyi, dan lainnya, yang menyebabkan hatinya menjadi sakit, atau bahkan mati, karena dikuasai bayang-bayang wanita pujaannya itu!

Termasuk fitnah ini adalah laki-laki yang mentaati istri untuk memuaskan kesenangannya di dalam bersolek, berhias, dan bersenang-senang, sehingga berusaha mendapatkan harta berbagai cara, baik halal atau haram!
Atau mencintai istri secara berlebihan sehingga lebih mengutamakannya dari siapapun bahkan orang-tuanya! Atau bahkan lebih mantaati istri daripada mentaati Allah dan Rasul-Nya!! Sehingga suami lebih memilih menemani istrinya daripada melaksanakan ketaatan, baik, shalat berjama’ah di masjid, berjihad fi sabililah dan lainnya.

Demikian juga digunakannya wanita sebagai media iklan, atau pelicin untuk meraih jabatan, kepuasan atasan, dan tujuan duniawi lainnya.

Wanita yang menggunakan daya-tariknya atau bahkan menjual tubuhnya untuk mendapatkan harta. Semua itu merupakan fitnah berbahaya yang ditimbulkan wanita.

b). Fitnah Anak.
Allah mengingatkan fitnah anak ini di dalam firmanNya:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا إِنَّ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ وَأَوْلاَدِكُمْ عَدُوًّا لَّكُمْ فَاحْذَرُوهُمْ وَإِن تَعْفُوا وَتُصْفِحُوا وَتَغْفِرُوا فَإِنَّ اللهَ غَفُورُُ رَّحِيمٌ {14} إِنَّمَآ أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلاَدُكُمْ فِتْنَةُُ وَاللهُ عِندَهُ أَجْرٌ عَظِيمُُ {15}

Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka; dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu); dan di sisi Allah-lah pahala yang besar. [At Taghaabun: 14-15]

c). Harta Dunia

Di antara fitnah syahwat adalah saling berlomba meraih dunia dan rakus terhadap harta sehingga menimbulkan iri, dengki, hasad dan saling menjauhi antar umat. Hal itu disebabkan dibukanya kemakmuran dan kemewahan hidup oleh Allah Ta’ala.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا فُتِحَتْ عَلَيْكُمْ فَارِسُ وَالرُّومُ أَيُّ قَوْمٍ أَنْتُمْ قَالَ عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عَوْفٍ نَقُولُ كَمَا أَمَرَنَا اللَّهُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوْ غَيْرَ ذَلِكَ تَتَنَافَسُونَ ثُمَّ تَتَحَاسَدُونَ ثُمَّ تَتَدَابَرُونَ ثُمَّ تَتَبَاغَضُونَ أَوْ نَحْوَ ذَلِكَ ثُمَّ تَنْطَلِقُونَ فِي مَسَاكِينِ الْمُهَاجِرِينَ فَتَجْعَلُونَ بَعْضَهُمْ عَلَى رِقَابِ بَعْضٍ

Jika Persia dan Romawi dibukakan pada kamu, menjadi kaum yang mana kamu nanti? Abdurrahaman bin ‘Auf berkata: “Kami akan berkata sebagaimana yang diperintahkan Allah dan Rasulullah. (Beliau berkata): “Atau (kamu akan melakukan) selain itu, kamu akan saling berlomba (meraih dunia), kemudian kamu akan saling hasad, kemudian kamu akan saling menjauhi, kemudian kamu akan saling membenci, atau semacamnya, kemudian kamu akan berangkat ke rumah-rumah orang-orang muhajirin, lalu sebagian kamu memukul leher sebagian yang lain. [HR. Muslim, Ibnu Majah, dan lainnya dari Abdulah bin Amr bin Al-Ash]

Dalam hadits lain beliau bersabda:

فَوَاللَّهِ لَا الْفَقْرَ أَخْشَى عَلَيْكُمْ وَلَكِنْ أَخَشَى عَلَيْكُمْ أَنْ تُبْسَطَ عَلَيْكُمُ الدُّنْيَا كَمَا بُسِطَتْ عَلَى مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ فَتَنَافَسُوهَا كَمَا تَنَافَسُوهَا وَتُهْلِكَكُمْ كَمَا أَهْلَكَتْهُمْ

Demi Allah, bukanlah kefakiran yang aku khawatirkan atas kamu. Tetapi aku khawatir atas kamu jika dunia dihamparkan atas kamu sebagaimana telah dihamparkan atas orang-orang sebelum kamu, kemudian kamu akan saling berlomba (meraih dunia) sebagaimana mereka saling berlomba (meraih dunia), kemudian dunia itu akan membinasakan kamu, sebagaimana telah membinasakan mereka.” [HR. Bukhari, Muslim, Ahmad, dan lainnya dari Amr bin Auf Al-Anshari]

d). Tamak Terhadap Asy-Syaraf (kemuliaan, kedudukan, kehormatan, gengsi).

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberitakan tentang bahaya tamak terhadap asy-syaraf dengan sabdanya:

مَا ذِئْبَانِ جَائِعَانِ أُرْسِلَا فِي غَنَمٍ بِأَفْسَدَ لَهَا مِنْ حِرْصِ الْمَرْءِ عَلَى الْمَالِ وَالشَّرَفِ لِدِينِهِ

Tidaklah dua srigala lapar yang dilepas pada seekor kambing lebih merusakkannya daripada ketamakan seseorang terhadap harta dan kehormatan (yang merusakkan) agamanya. [HR. Tirmidzi, Ahmad, Ibnu Hibban dari Ka’b bin Malik Al-Anshari. Dishahihkan oleh Syaikh Mushthafa Al-Adawi di dalam Shuwar Minal Fitan, hal: 38]

BENTENG FITNAH SYUBHAT DAN SYAHWAT
Imam Ibnul Qayyim t berkata: “Asal seluruh fitnah (kesesatan) hanyalah dari sebab:

  1. Mendahulukan fikiran terhadap syara’ (agama) adalah asal fitnah syubhat
  2. Mendahulukan hawa-nafsu terhadap akal adalah asal fitnah syahwat.

Fitnah syubhat ditolak dengan keyakinan akan perkara yang haq, adapun fitnah syahwat ditolak dengan kesabaran.

Jadi dua fitnah ini sangat besar perannya dalam menyesatkan manusia. Oleh karena itulah Alloh menjadikan kepemimpinan agama tergantung dengan dua perkara ini. Allah Azza wa Jalla berfirman:

وَجَعَلْنَا مِنْهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا لَمَّا صَبَرُوا وَكَانُوا بِئَايَاتِنَا يُوقِنُونَ

Dan Kami jadikan di antara mereka (Bani Israil) itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar. Dan adalah mereka meyakini ayat-ayat Kami. [As Sajdah:24]

Ini menunjukkan bahwa dengan kesabaran dan keyakinan akan dapat diraih kepemimpinan dalam agama. Alloh juga menggabungkan dua hal itu di dalam firmanNya:

وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ }

Dan mereka saling menasehati supaya mentaati kebenaran, dan saling menasihati supaya menetapi kesabaran. [Al Hasr :3]

Maka mereka saling menasehati supaya mentaati kebenaran yang menolak syubhat-syubhat, dan saling menasihati supaya menetapi kesabaran yang menghentikan syahwat-syahwat.

Allah juga menggabungkan antara keduanya di dalam firmanNya:

وَاذْكُرْ عِبَادَنَآ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ أُوْلِى اْلأَيْدِي وَاْلأَبْصَارِ

Dan ingatlah hamba-hamba Kami: Ibrahim, Ishak dan Ya’qub yang mempunyai perbuatan-perbuatan yang besar dan ilmu-ilmu yang tinggi. [Ash Shaaffat :45]

Maka dengan kesempurnaan akal dan kesabaran, fitnah syahwat akan ditolak. Dan dengan kesempurnaan ilmu dan keyakinan, fitnah syubhat akan ditolak [Mawaridul Amaan, hal: 414-415]

Itulah bro semua, yang sedang menimpa kita. Kita terkena fitnah subhat sehingga kebingungan terhadap mana yang salah dan mana yang benar. Kita juga sering terkungkung dalam fitnah syahwat, sehingga karena menuruti keinginan (diri kita, istri atau anak) sehingga kita melalaikan ketaatan kepada Allah SWT.

Oleh karena itu, bro semua…marilah kita sadar dan segera introspeksi bahwa semua itu (terfitnahnya kita) karena kesalahan kita sendiri. Kita terlalu percaya diri (sombong) terhadap akal kita sehingga tidak mau mendengar nasihat dari Al Qur’an dan As Sunnah. Dan kita terlalu cinta kepada dunia sehingga melupakan nasib kita di akhirat. Sadarlah ..ayo bangun…dan semangat, mari kita tingkatkan ilmu dan keyakinan kita akan syari’at Islam agama kita ini. Dan marilah kita sadar bahwa kita di dunia hanya sebentar, hanya numpang liwat, sedang diuji untuk mentaati perintah Allah SWT dan menjauhi larangan-Nya. Jika kita lulus maka kita akan beruntung di akhirat kelak.

Yang benar datangnya dari Allah SWT dan yang salah datangnya dari diri ane sendiri

Wallahul Musta’an.

doa kafarotul majlis

Wassalamu’alaikum wR wB

17 Komentar

    • amiin
      btw ente tahu nggak wahabi itu apa ?
      dan ajarannya bagaimana ?
      sumber-sumber ajarannya apa saja yang bertentangan dengan Al Qur’an dan As Sunnah ?
      Kalau tahu monggo di-share di sini
      Kalau nggak tahu, berarti ente sudah menfitnah muslim yang lainnya
      Dan harus hati2 nyebut wahabi, karena yang biasanya nyebut2 wahabi, kalo tidak orang kafir ya orang syi’ah (pendukung syi’ah)

    • Penisbatan yang keliru terhadap Muhammad bin Abdul wahab
      Klo memang wahabi dinisbatkan kepada beliau, lihat nama beliau sehingga anda tau letak kesalahan anda.
      Cari juga tokoh yang bernama Abdul wahab rustumi, bandingkan antara keduanya, semoga membantu. Barokallohufik

    • sama-sama ngaji bro, janganlah mebuat pernyataan tanpa ilmu dan dalil
      dan jangan berprasangka jelek (su’udzon) terhadap sesama ahlus sunnah, kejelekan akan kembali kepada yang berprasangka
      silahkan tabayyun jika memang ada yang perlu diklarifikasi

  1. Mksh uda share ilmu akhwan….
    ​آمِيّنْ..آمِيّنْ..آمِيّنْ.. يَ رَ بَّلْ عَلَمِيّنْ

  2. Mksh ilmunya akhwan
    ​آمِيّنْ..آمِيّنْ..آمِيّنْ.. يَ رَ بَّلْ عَلَمِيّنْ

  3. Masya Allah, salah satu artikel paling berbobot ala om motogokil neh… syukron atas sharenya bro… jazakillah khairan katsiran… seperti sampeyan bilang, kebenaran yang haq hanya milik Allah… kita sebagai manusia tidak henti2nya mencari ilmu atas apa yg diyakini sehingga tidak terjebak dengan fitnah syubhat… kita berada pada generasi yg jauh dari Rasullullah, hadits2 disusun setelah generasi Rasul.. penyimpangan bisa saja terjadi dalam penyusunan atw pembiasan terjadi dari generasi ke generasi, maka langkah terakhir dari ikhtiar adalah tetap mengharapkan dan berdoa memohon petunjuk kepada Allah SWT yang maha membolak balikkan hati setiap hamba-Nya…aamiin… Wallahu ‘alam bishawab..

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.