[ Ngaji Islam ] Sifat Sombong Menghancukan Dunia dan Menjerumuskan ke Neraka


mukadimah4

Dalam kehidupan kita sehari2, sikap sombong sering kita dapati, baik pada diri kita pribadi maupun pada orang lain. Oleh karena itu jika diri kita masih ada sifat sombong ini maka cepat2 lah kita ber-istighfar, mohon ampun kepada Allah SWT. Karena sifat sombong hanyalah milik Allah Yang Maha Besar, kita haram memilikinya. Barang siapa memiliki sifat sombong maka haram masuk surga dan akan ditempatkan di neraka bersama2 iblis laknatullah.

Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,


لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ قَالَ رَجُلٌ إِنَّ الرَّجُلَ يُحِبُّ أَنْ يَكُونَ ثَوْبُهُ حَسَنًا وَنَعْلُهُ حَسَنَةً قَالَ إِنَّ اللَّهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ

“Tidak akan masuk surga seseorang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan sebesar biji sawi.” Ada seseorang yang bertanya, “Bagaimana dengan seorang yang suka memakai baju dan sandal yang bagus?” Beliau menjawab, “Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai keindahan. Sombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan orang lain. (HR. Muslim no. 91)

Dalam hadits di atas ada beberpa pelajaran yang bisa dipetik

  1. Diharamkan pada diri kita sifat sombong sedikitpun, artinya kita sama sekali sedikit pun tidak boleh memiliki sifat sombong. Jika kita sombong meskipun sebesar “atom” maka kita haram masuk surga. Kalo nggak masuk surga, kamana lagi selain ke neraka.
  2. Menyukai keindahan bukanlah sombong
  3. Yang dimaksud sombong adalah : a) menolak kebenaran dan b) meremehkan orang lain

Mari kita diskusikan bersama2 dan kita instropeksi apakah kita termasuk orang yang sombong atau tidak ???…

a) Menolak kebenaran (al-haq), apa maksudnya ?

Sombong terhadap al haq adalah sombong terhadap kebenaran, yakni dengan tidak menerimanya. Setiap orang yang menolak kebenaran maka dia telah sombong disebabkan penolakannya tersebut.  Oleh karena itu wajib bagi setiap hamba untuk menerima kebenaran yang ada dalam Kitabullah (Al Qur’an) dan ajaran para rasul ‘alaihimus salaam (As Sunnah).

Orang yang sombong terhadap ajaran rasul secara keseluruhan maka dia telah kafir dan akan kekal di neraka. Ketika datang kebenaran yang dibawa oleh rasul dan dikuatkan  dengan ayat dan burhan, dia bersikap sombong dan hatinya menentang sehingga dia menolak kebenaran tersebut. Hal ini seperti yang Allah terangkan dalam firman-Nya,

إِنَّ الَّذِينَ يُجَادِلُونَ فِي ءَايَاتِ اللهِ بِغَيْرِ سًلْطَانٍ أَتَاهُمْ إِن فِي صُدُورِهِمْ إِلاَّ كِبْرٌ مَّاهُم بِبَالِغِيهِ فَاسْتَعِذْ بِاللهِ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ {56}

Sesungguhnya orang-orang yang memperdebatkan tentang ayat-ayat Allah tanpa alasan yang sampai pada mereka, tidak ada dalam dada mereka melainkan hanyalah (keinginan akan) kesombongan yang mereka sekali-klai tiada akan mencapainya, maka mintalah perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya Dia Maha Mnedengar lagi Maha Melihat” (QS. Ghafir:56)

Adapun orang yang sombong dengan menolak sebagian al haq yang tidak sesuai dengan hawa nafsu dan akalnya –tidak termasuk kekafiran- maka dia berhak mendapat hukuman (adzab) karena sifat sombongnya tersebut.

Maka wajib bagi para penuntut ilmu untuk memiliki tekad yang kuat mendahulukan dali  Al Qur’an dan perkataan Rasul shalallahu ‘alaihi wa sallam di atas perkataan/pandangan/opini siapa pun. Karena pokok kebenaran adalah kembali kepadanya dan pondasi kebenaran, yakni Al Qur’an dan As Sunnah (petunjuk Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam).

Oleh karena itu sikap seorang muslim terhadap setiap kebenaran adalah tidak boleh menolaknya (sombong) bahkan sebaliknya harus menerimanya secara penuh sebagaimana firman Allah ‘Azza wa Jalla,

وَمَاكَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلاَمُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللهُ وَرَسُولَهُ أَمْرًا أَن يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةَ مِنْ أَمْرِهِمْ وَمَن يَعْصِ اللهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلاَلاً مُّبِينًا {36}

Dan tidaklah patut bagi mukmin laki-laki dan mukmin perempuan, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka.” (QS. Al-Ahzab: 36)

فَلاَ وَرَبِّكَ لاَيُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لاَ يَجِدُواْ فِي أَنفُسِهِمْ حَرَجًا مِّمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا {65}

Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya” (QS. An Nisaa’: 65)

b) Merendahkan orang lain

Bentuk kesombongan yang kedua adalah sombong terhadap makhluk, yakni dengan meremehkan dan merendahkannya. Hal ini muncul karena seseorang bangga dengan dirinya sendiri dan menganggap dirinya lebih mulia dari orang lain. Kebanggaaan terhadap diri sendiri membawanya sombong terhadap orang lain, meremehkan dan menghina mereka, serta merendahkan mereka baik dengan perbuatan maupun perkataan. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

بِحَسْبِ امْرِئٍ مِنَ الشَّرِّ أَنْ يَحْقِرَ أَخَاهُ الْمُسْلِمَ

Cukuplah seseorang dikatakan berbuat jahat jika ia menghina saudaranya sesama muslim” (H.R. Muslim 2564). (Bahjatu Qulubill Abrar, hal 195)

Di antara bentuk kesombongan terhadap manusia di antaranya adalah sombong dengan pangkat dan kedudukannya, sombong dengan harta, sombong dengan kekuatan dan kesehatan, sombong dengan ilmu dan kecerdasan, sombong dengan bentuk tubuh, dan kelebihan-kelebihan lainnya. Dia merasa lebih dibandingkan orang lain dengan kelebihan-kelebihan tersebut. Padahal kalau kita renungkan, siapa yang memberikan harta, kecerdasan, pangkat, kesehatan, bentuk tubuh yang indah? Semua murni hanyalah nikmat dari Allah Ta’ala. Jika Allah berkehendak, sangat mudah bagi Allah untuk mencabut kelebihan-kelebihan tersebut. Pada hakekatnya manusia tidak memiliki apa-apa, lantas mengapa dia harus sombong terhadap orang lain? Wallahul musta’an.

HUKUMAN BAGI ORANG YANG SOMBONG

a) Hukuman langsung di dunia

Dalam sebuah hadist yang shahih dikisahkan sebagai berikut ,

أَنَّ رَجُلاً أَكَلَ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- بِشِمَالِهِ فَقَالَ « كُلْ بِيَمِينِكَ ». قَالَ لاَ أَسْتَطِيعُ قَالَ « لاَ اسْتَطَعْتَ ». مَا مَنَعَهُ إِلاَّ الْكِبْرُ. قَالَ فَمَا رَفَعَهَا إِلَى فِيهِ.

“Ada seorang laki-laki makan di samping Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan tangan kirinya. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Makanlah dengan tangan kananmu! Orang tersebut malah menjawab, Aku tidak bisa. Beliau bersabda, “Apakah kamu tidak bisa?” -dia menolaknya karena sombong-. Setelah itu tangannya tidak bisa sampai ke mulutnya” (H.R. Muslim no. 3766).

Orang tersebut mendapat hukum di dunia disebabkan perbuatannya menolak perintah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.  Dia dihukum karena kesombongannya. Akhirnya dia tidak bisa mengangkat tangan kanannya disebabkan sikap sombongnya terhadap perintah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Inilah di antara bentuk hukuman di dunia bagi orang yang sombong.

b) Hukuman di akhirat adalah neraka

Haritsah bin Wahb Al Khuzai’i berkata bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَلَا أُخْبِرُكُمْ بِأَهْلِ النَّارِ قَالُوا بَلَى قَالَ كُلُّ عُتُلٍّ جَوَّاظٍ مُسْتَكْبِرٍ

Maukah kamu aku beritahu tentang penduduk neraka? Mereka semua adalah orang-orang keras lagi kasar, tamak lagi rakus, dan takabbur(sombong). (HR. Bukhari no. 4918 dan Muslim no. 2853).

Sebagian salaf menjelaskan  bahwa dosa pertama kali yang muncul kepada Allah adalah kesombongan. Allah Ta’ala berfirman,

وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلاَئِكَةِ اسْجُدُوا لأَدَمَ فَسَجَدُوا إِلاَّ إِبْلِيسَ أَبَى وَاسْتَكْبَرَ وَكَانَ مِنَ الكَافِرِينَ {34}

Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah kalian kepada Adam,” maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur (sombong) dan ia termasuk golongan orang-orang yang kafir“ (QS. Al Baqarah:34)

Qotadah berkata tentang ayat ini, “Iblis hasad kepada Adam ‘alaihis salaam dengan kemuliaan yang Allah berikan kepada Adam. Iblis mengatakan, “Saya diciptakan dari api sementara Adam diciptakan dari tanah”. Kesombongan inilah dosa yang pertama kali terjadi . Iblis sombong dengan tidak mau sujud kepada Adam” (Tafsir Ibnu Katsir, 1/114, cet al Maktabah at Tauqifiyah)

###############________________#################

Karena sangat mudahnya hati manusia (kita) terjangkit penyakit sombong, maka banyak sekali peringatan dari Allah SWT agar kita ber-hati2 dari sifat ini

Allah Ta’ala berfirman,

وَلاَ تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلاَ تَمْشِ فِي اللأَرْضِ مَرَحاً إِنَّ اللهَ لاَ يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَجُوْرٍ  {18}

Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS. Luqman:18)

Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْتَكْبِرِينَ

“Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang menyombongkan diri.” (QS. An Nahl: 23)

Begitupula sebaliknya, Allah SWT memerintahkan kita untuk bersifat tawadlu’, rendah hati, berbudi yang mulia, seperti dalam firman-Nya,

وَعِبَادُ الرَّحْمَنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الْأَرْضِ هَوْنًا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلَامًا

“Hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih adalah orang-orang yang berjalan di atas muka bumi dengan rendah hati (tawadhu’) dan apabila orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata yang baik.” (QS. Al Furqaan: 63)

Sikap tawadhu’ inilah yang akan mengangkat derajat seorang hamba, sebagaimana Allah berfirman,

دَرَجَاتٍ الْعِلْمَ أُوتُوا وَالَّذِينَ مِنكُمْ آمَنُوا الَّذِينَ اللَّهُ يَرْفَعِ

Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang-orang yang berilmu beberapa derajat “ (QS. Al Mujadilah: 11).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ وَمَا زَادَ اللَّهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلاَّ عِزًّا وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلَّهِ إِلاَّ رَفَعَهُ اللَّهُ.

Sedekah itu tidak akan mengurangi harta. Tidak ada orang yang memberi maaf kepada orang lain, melainkan Allah akan menambah kemuliaan untuknya. Dan tidak ada orang yang tawadhu’ (merendahkan diri) karena Allah, melainkan Allah akan mengangkat derajatnya.” (HR. Muslim no. 2588)

Diriwayatkan dari Iyadh bin Himar radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,

وَإِنَّ اللَّهَ أَوْحَى إِلَيَّ أَنْ تَوَاضَعُوا حَتَّى لَا يَفْخَرَ أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ وَلَا يَبْغِ أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ

‘Sesungguhnya Allah mewahyukan kepadaku agar kalian bersikap rendah hati hingga tidak seorang pun yang bangga atas yang lain dan tidak ada yang berbuat aniaya terhadap yang lain” (HR Muslim no. 2865).

Termasuk buah dari lmu yang paling agung adalah sikap tawadhu’. Tawadhu’ adalah ketundukan secara total terhadap kebenaran, dan tunduk terhadap perintah Allah dan rasul-Nya dengan melaksanakan perintah dan menjauhi larangan disertai sikap tawdahu’ terhadap manusia dengan bersikap merenadahkan hati, memperhatikan mereka baik yang tua maupun muda, dan memuliakan mereka. Kebalikannya adalah sikap sombong yaitu menolak kebenaran dan rendahkan manusia.  (Bahjatu Qulubil Abrar, hal 110)

Contoh yang paling tepat dalam hal tawadlu’ dan manjauhi sifat sombong adalah pada diri Rosululloh SAW. Karena salah satu tujuan diutusnya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam adalah untuk memperbaiki akhlak manusia. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ صَالِحَ الْأَخْلَاقِ

Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlaq yang baik.” (HR. Ahmad 2/381. Syaikh Syu’aib Al Arnauth menyatakan bahwa hadits ini shahih)

Bro2 semua, pembaca yang dirahmati oleh Allah, semoga Allah Ta’ala menjauhkan kita dari sikap sombong. Hanya kepada Allah lah kita memohon. Wa shalallahu ‘alaa nabiyyinaa Muhammad.

Semoga bermanfaat, yang benar datang dari Allah SWT dan yang salah datang dari ane al-faqir

doa kafarotul majlis

Wassalamu’alaikum wR wB

Sumber

Jauhi sifat sombong

Advertisements

19 responses to “[ Ngaji Islam ] Sifat Sombong Menghancukan Dunia dan Menjerumuskan ke Neraka

  1. Artikel bagus, mencerahkan.
    Matursuwun.

  2. jadi malu saya……. subhanallah

  3. Astagh firullaaaah hal adziiim…..

    ya ALLAH ampunilah dosa dan kesalahan hamba….

    makin suka dg blog mas iwan motogokil

    terus lah menulis tentu saja dg disiplin ilmu dalam hal urusan dunia seperti teknik nesin dan analisis lainnya….

    menyampaikan kebenaran tentang apa yg di bawa oleh nabi kita yg mulia rosulullah saw.

    karena itu orang yg membaca nya kemudian menyadari kesalahan dan dosa dosa di harapkan kembali ke jalan yg benar jalannya orang orang yg di beri nikmat….

    kuntum khoero umatin ukhrijaat linnas ta muruna bil ma rufin watanhauna annil mungkar….. al ayah.

    semoga akhi iwan senantiasa tetap ada dalam naungan ALLAH….

    sukron akhi…. siraman rohani nya.

  4. pak dosen, apakah moto perusahaan juga bisa bersifat sombong, misalnya

    “bagaimanapun juga, h*nda selalu lebih unggul”

    atau

    “y*maha semakin didepan”

    kalo emang bisa, apakah orang2 yang bernaung di perusahaan tersebut juga sombong???

    nitip ya pak dosen

    http://rakainfantri.wordpress.com/2014/03/16/cara-memperlakukan-laptop-yang-baik-dan-benar/

    • moto seperti itu boleh2 saja asalkan buat internal, biasanya di tempel di tempat2 kerja, untuk membangkitkan semangat kerja
      tapi jika diucapkan untuk mengintimidasi kompetitor jelas sekali nuasa kesombongannya.
      sama seperti intisari dari kualifikasi muslimin
      “Kalian adalah sebaik2nya umat”
      sombong datangnya dari hati yang menentang kebenaran dan meremehkan orang lain, yang kemudian keluar melalui bahasa tubuh, fikiran, raut muka, lisan dll
      bukan dari tempat bernaung

  5. Alhamdulillah mksih pencerahan ny om

  6. Katanya, “Sombong dihadapan org yg sombong adalah tawadhu itu sendiri.”

    Sebab, ada jg yg berujar, “Janganlah kamu rendahkan dirimu dihadapan org yg merendahkan kamu.”

    Bener gak tuh ya.. 😀

    Salam omm gokil.. Peace..

    • Ujar2 seperti itu ane nggak pernah denger, yang ada jika kita di olok2, maka kita balas dengan perkataan yang santun kalo bisa, kalo nggak bisa yang kita tinggalkan majelis tsb
      Kalau menurut ane, mending kita ikuti saja akhlaq Rosulullah SAW, itulah panutan kita

  7. Assalamu’alaikum.wr.wb
    salam kenal mas iwan, saya dudung angkasa.
    luar biasa artikelnya, terlebih isinya.
    mau nanya juga terkait ‘jangan berjalan di muka bumi dengan sombong’

    1. Apakah memakai motor dengan knalpot yang suka ‘nyemprot’ (knalpot model ke atas, pas motor yang di depan ng-gas, kita yang dibelakang motor itu kena kepulan angin knalpot, kadang bercampur asep, ‘asem dah tuh orang’)
    2. Juga yang suka ng-gas ng-gas-in waktu lampu merah (seperti nunjukkin ‘ini lho motor gue, suara knalpotnya ok’ walau ya wallahu’alam sih isi hatinya)

    Saya suka dengan desain dan bagusnya motor gede, cuma urusan knalpot ini aja yang jadi problem, karena secara tidak langsung mengganggu orang yang dibelakangnya, dan secara tidak langsung bagi yang knalpot berisik–>itu dapat sumpah serapah dari orang lain, terutama yang sedang sakit.

    Nah, jadi apakah dua poin itu terkena ayat tersebut?

    syukron ya.
    wassalam

    • Sebenernya difinisi sombong sudah ada penjelasannya yaitu :
      – menolak kebeneran
      – meremehkan manusia lain
      Jadi baik diri kita maupun orang lain yang terkena dengan satu saja difinisi di atas, berarti kita sudah termasuk orang yang sombong

Pemirsa motogokil yang terhormat, jika ingin komentar mohon subscribe ulang, karena baru migrasi self hosting