Monthly Archives: August 2013

[ECU] Mapping Waktu Pengapian, Mengapa Tergantung Pada Putaran Mesin? (Why Spark Ignition Timing Depending on Engine Speed?)

mapping ignition timing

Assalamu’alaikum wR wB,

dan salam sejahtera bagi kita semua. Semoga kita semua selamat dalam perjalanan sampai ke tujuan

Kita ketemu lagi bro, setelah masa2 pembersihan diri, kini kita masuki masa peningkatan diri. Salah satunya mungkin dengan artikel ini. Kita ketahui bersama baik ECU maupun CDI, basis kerja utamanya (variable bebas yang paling penting) adalah “putaran mesin” (engine speed), sering kita istilahkan dengan “rpm”. Naik-turunnya waktu pengapian tergantung pada naik-turunya rpm mesin, kemudian variable lain masukan dari sensor2 (TPS, MAP, IAT, O2, IAP, Knock sensor, dll) menjadi pengkoreksi (fine tuning) terhadap waktu pengapian tersebut sehingga semakin pas, sesuai yang diinginkan. Nah yang jadi pertanyaan ; “ Apa hubungannya engine speed (rpm) dengan waktu pengapian?”

Dan kalo kita bisa menemukan jawabannya, maka seting pengapian kita akan mendekati optimal. Dan untuk optimalnya kita perlu memperhitungkan masukan sensor2 yang lain. Inilah yang programkan dalam mapping di CDI/ECU, baik yang standar maupun racing. Ok, bro semua, mari kita mulai…

Pada dasarnya waktu pengapian (ignition timing) ditentukan untuk mendapatkan pembakaran yang optimum, dengan demikian diharapkan akan mengahasilkan power yang maksimum dan emisi gas buang yg minimum di semua rpm. Akan tetapi penentuan waktu pengapian ini dibatasi oleh knocking dibagian atas dan kerugian kompresi dibagian bawah. Kira2 ilustrasin seperti ini

SA on MTB Continue reading

Advertisements

Mudik Pake Motor AKAP (Antar Kota Antar Propinsi), Awas Setelan Rantai

setel rante buat mudik

Assalamu’alaikum wR wB

Bagi bro yang mudik pake motor, selamat berjuang menghadapi macet, panas, debu, polusi, penat dan lelah dalam perjalanan. Semoga semuanya diselamatkan Allah SWT, sampai ke tujuan dan kembali ke tempat asal, dalam keadaan sehat wal afiat dan diliputi kegembiraan dan kebahagiaan.

Biasanya (pengalaman ane “milir” (bukan mudik, karena dari daerah/Malang ke kota/Jakarta) tahun 2006), motor akan dimuati dengan beban maksimum, bahkan lebih. Oleh karena itu semua bagian kaki2 akan mengalami tekanan dan kerja yang sangat berat dan berlangsung lama. Salah satu komponen yang harus diperhatikan adalah “rante” yang menghubungkan gir depan/mesin dan gir belakang/roda. Menurut buku panduan kekendoran rantai antara 20-30mm, tapi pada kasus mudik menjadi kurang tepat, karena beberapa hal :

1. Karena poros ayun swing arm tidak terletak di as gir depan, maka ayunan ban belakang yg berlebihan akan menjadikan jarak antara gir depan dan belakang akan berubah2 secara ekstrim

2. Penyetelan biasanya saat posisi motor di-standar tengah, alias ban belakang tanpa beban, sehingga saat dibebani dengan beban yang sangat berat, maka rante akan menjadi kecang/tegang, dan hal terburuk yang bisa terjadi adalah rante putus.

3. Penyetelan rante belum meperhitungkan sejauh mana swing-arm mengayun, sehingga akan terjadi ketidak tepatan. Jika terlalu kencang rante-gir bisa cepat aus bahkan rante bisa putus, dan bila terlalu kendor rante jadi tidak stabil dan bisa merusak gigi2 gir atau bahkan bisa lepas. Keduanya sangat beresiko dan berbahaya.

Lalu bagaimana penyetelannya ? Continue reading