Yamaha E-Fino Lahir, Tantangan Motor Listrik Nasional Gesits Semakin Berat

Assalamu’alaikum wa rochmatullohi wa barokatuh

Salam sejahtera buat kita semua, semoga kita semua selamat di perjalanan sampai ke tujuan

Kemarin yamaha memperkenalkan motor listrik versi skuter ke khalayak. Yaitu e-fino namanya, sebuah skuter listrik dengan penamakan seperti skutik fino. Hanya saja dibekali dengan motor listrik, bukan dengan motor bakar 4-tak. Skuter listrik e-fino ini bukan barang baru, karena sudah lama diperkenalkan, khsusnya di jepang sejak tahun 2015.

Hadirnya e-fino jelas sangat bagus untuk beberapa aspek, diantaranya perkembangan teknologi kendaraan bergerak, penghematan sumber daya energi minyak bumi, juga aspek kesehatan lingkungan hidup. Akan tetapi hadirnya e-fino ini sekaligus memberikan efek (yang bisa dibilang efek negatif) bagi perkembangan motor listrik nasional, yaitu gesit.

Karena tentu saja sebahagian besar masyarakat lebih percaya pruduk pabrikan, apalagi pabrikan sekelas yamaha dan honda ketimbang produk rumahan. Dan hal tersebut logis, karena penelitian dan pengujian yang dilakukan pabrikan sudah sangat matang sehingga merekan berani menelurkan suatu produk motor listrik dan menjualnya ke masyarakat. Lain halnya dengan produk rumahan, mereka membutuhkan dukungan, pembuktian dan kepercayaan lebih yang luar biasa untuk menembus dominasi raksasa otomotif dunia.

Setelah sebelumnya viar dan honda memperkenalkam motor listriknya [artikel], sekarang yamaha juga masuk ke segmen ini. Pangsa pasar yang tadinya terlihat kosong dan memberikan harapan bagi gesits (motor listrik nasional), tiba-tiba sekarang terasa penuh dengan hadirnya 2 raksasa otomotif dunia. Tantangan yang sangat berat menghadang di depan arena, terutama bagi gesits yang masih “embrio”.

Gesits

Rivalnya yaitu viar  q1

Honda ev-neo

Kemudian menyusul yamaha e-fino

Pemerintah harus memberikan dukungan penuh terhadapa lahirnya gesits ini, karena jika tidak ia akan langsung mati setelah lahir. Meneurut motogokil pemerintah harus melakukan beberapa hal, yaitu :

  1. Memberi dukungan penuh, baik finasial maupun kebijakan. Finansial : produksi kendaraan listrik (electric vehicle/EV) termasuk motor listrk gesits, harus langsung ditangani pemerintah sebagai industri strategis, seperti PAL dan PINDAD. Kebijakan : pemerintah harus memerintahkan bahwa semua instansi pemerintah harus menggunakan EV lokal buatan dalam negeri.
  2. Memberikan proteksi pada produk dalam negeri
  3. Menyediakan sarana yang mendukung, seperti tempat pengisian aki.
  4. Meningkatkan dana penelitian mengenai EV dan mengikatnya secara langsung dengan industri strategis yang terkait dengannya.

Kalau seperti ini, maka ev lokal akan bisa bertahan, tumbuh dan berkembang. Mampu tetap hidup di tengah himpitan dan gempuran pabrikan raksasa dunia. Dan dengan berjalannya waktu ia akan semakin kuat dan dipercaya masyarakat.

Mohon maaf jika ada salah dan kurangnya. Semoga bermanfaat, wassalamu’alaikum wa rochmatullohi wa barokatuh.

4 Komentar

  1. Beda kelas kayaknya om, saya masih lebih pilih gesits 5kwh-nya (karena range nya bisa 100km) itu cuma 30km, maksimal 60km (2 baterai).
    Masalahnya saya ga mewakili banyak pengguna kendaraan roda dua di Indonesia. 😀

  2. Harusnya pemerintah bisa bilang NO WAY buat pabrikan asing membuat dan memasarka spd motor listrik dlmnegri…
    Lambat laun..pabrika rumahan pun bisa berjaya…asal dilindungi dg regulasi yg berpihak.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.